PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER MANAJEMEN UNIVERSITAS JAMBI

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER MANAJEMEN UNIVERSITAS JAMBI
SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERKUNJUNG DI BLOG AHMAD FAUZAN FIQRI, S.E.,M.M

Senin, 13 Juni 2016

Ramadhan ke-8 2016



Memecahkan Record di Bulan Ramadhan
sumber: google.com
Siapakah orang paling dermawan?? Jawabannya adalah Rasulullah.
Jabir bin Abdillah menceritakan, bahwa Rasulullah tidak pernah berkata “tidak” bila diminta. (HR. Bukhari)
Anas bin Malik Juga berkata, bahwa Rasulullah adalah orang yang paling dermawan
Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan, bahwa Rasulullah terkumpul pada Beliau dasar-dasar akhlak karimah. Yaitu, perbuatan baik untuk kerabat dekat, dan untuk orang luar (bukan kerabat); perbuatan baik yang prakteknya dengan badan dan yang dipraktekkan dengan harta; perbuatan baik sasarannya membantu orang tidak mampu, dan juga yang membantu orang yang mampu.
Semua hal tersebut telah dipraktekkan oleh Rasulullah.
Dalam kedermawanan, tidak ada seorangpun yang bisa menyaingi Rasulullah. Saking dermawannya, bahkan kain yang sedang Beliau pakai pun, ketika ada yang memintanya, beliau serahkan.
Akan tetapi, kedermawanan Beliau tidak berhenti sampai di situ. Belum cukup rasanya bila hanya berhasil memecahkan record dalam mengalahkan orang lain. Beliau masih berusaha untuk memecahkan record nya sendiri. Ya, di bulan Ramadhan ini.
Anas bin Malik berkata, bahwa sifat kedermawanan Rasulullah di bulan Ramadhan lebih besar dibandingkan di hari-hari lainnya.
Bahkan kedermawanan Beliau diibaratkan seperti angin yang berhembus. Maksudnya, ibarat manfaat dari angin yang tidak ada pengnghalang, setiap sudut dan celah akan dimasukinya.
Siapa saingan kita dalam sedekah??
Terkadang kita ingin menyaingi jumlah nominal sedekah orang lain. Agar bisa berlomba-lomba dalam menunaikan sedekah. Akan tetapi, Rasulullah mengajarkan kita bahwa saingan dalam sedekah sebenarnya bukan orang lain. Saingan kita yang terberat adalah diri kita sendiri.
Rasulullah bersabda: “Sedekah satu dirhan bisa mengalahkan sedekah orang lain yang berjumah 100.000 dirham”.
Para sahabat terheran, lalu bertanya bagaimana bisa satu dirham mengalahkan 100.000 dirham?
Rasulullah menjelaskan, bahwa orang yang sedekahnya satu dirham itu hanya punya harta sebanyak 2 dirham. Sedangkan orang yang sedekahnya 100.000 dirham ia punya harta yang sangat banyak, sehingga 100.000 dirham tidak ada artinya dibandingkan hartanya yang tersisa. (HR. Nasai)
Dari hadits di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa fadhilah sedekah tidak dinilai dari  nominal harta yang kita keluarkan. Akan tetapi fadhilahnya dilihat dari persenan harta yang dikeluarkan dibandingkan harta yang masih tersimpan.
Sudah siapkah kita mengalahkan diri kita sendiri dalam bersedekah?? Menyisakan harta sebanding dengan harta yang disedekahkan??
Tidak perlu kita berkecil hati bila nominal sedekah kita jauh lebih kecil nilainya dibandingkan sedekah orang kaya. Karena, mereka pada hakikatnya bukan saingan kita. Walaupun menurut nominal kit a kalah, siapa tahu bila dilihat dari persenan kita termasuk pemenang.
Di bulan Ramadhan ini adalah kesempatan untuk memecahkan record kita sendiri dalam bidang sedekah. Saatnya kita tingkatkan jumlah persenan sedekah kita di bulan ini.
Jangan kita anggap remeh sekecil apapun sedekah yang kita keluarkan. Siapa tahu benda kecil itulah yang diterimma Allah Ta’ala karena tidak membuat kita riya’; tidak membuat kita sombong saat mengeluarkannya. Dan benda kecil itulah yang kelak akan menjadi benteng tubuh kita dari panas api neraka.
Rasulullah bersabda, “Lindungilah diri kalian dari api neraka, walaupun hanya dengan bersedekah separuh kurma” (HR. Bukhari)

Penulis: Ustadz Muhammad Yassir, Lc (Dosen STDI Imam Syafi’i Jember)

Sabtu, 11 Juni 2016

KAOS KAKI BOLONG

Pak Budiman Hartono, seorang yang terkenal dan kaya raya dari Surabaya, sedang sakit parah. Menjelang ajal menjemput, dikumpulkanlah anak2-nya.
Beliau berwasiat:Anakku, jika Ayah sudah dipanggil Allah yang Maha Kuasa, ada permintaan Ayah kpd kalian:
"Tolong dipakaikan kaos kaki kesayangan Ayah walaupun kaos kaki itu sudah bolong, Ayah ingin memakai barang kesayangan yg penuh kenangan semasa merintis usaha di perusahaan Ayah dan minta tolong kenangan kaos kaki itu dipakaikan bila Ayah dikubur nanti.
"Singkat cerita, Akhirnya sang Ayah wafat. Ketika mengurus Jenazah dan saat akan dikafani, anak-anaknya minta ke pak ustadz untuk memakaikan kaos kaki yg robek itu sesuai wasiat Ayahnya.
Akan tetapi pak Ustadz menolaknya:"Maaf secara Syariat hanya 2 lembar kain putih saja yang di perbolehkan dipakaikan kepada mayat.
"Terjadi perdebatan antara anak2 yg ingin memakaikan kaos kaki robekdan pak ustadz yang melarangnya.Karena tidak ada titik temu, dipanggilah penasihat sekaligus Notaris keluarga tersebut.
Sang notaris menyampaikan: "Sebelum meninggal Bapak menitipkan Surat Wasiat, ayo kita buka bersama2 siapa tahu ada petunjuk."Maka dibukalah surat wasiat Almarhum untuk anak2nya yang di titipkan kepada Notaris tsb.
Ini bunyinya:"Anak-anakku, pasti sekarang kalian sedang bingung, karena dilarang memakaikan kaos kaki bolong kepada jenazah Ayah".
"Lihatlah anak2ku, padahal harta Ayah sangat banyak, uang berlimpah, beberapa mobil mewah, tanah, kebun dan sawah dimana2, rumah mewah banyak, tetapi tidak ada artinya ketika Ayah sudah Meninggal Dunia.
""Bahkan kaos kaki bolong saja tidak boleh dibawa mati..".
"Begitu tidak berartinya Harta Dunia, kecuali Iman dan Amal Kebaikan kita"
"Anak-anakku, inilah yg ingin Ayah sampaikan agar kalian tidak tertipu dengan Dunia yang hanya Sementara.
Pada akhirnya teman sejati kita hanyalah Iman dan Amal shalih.
""Salam sayang dari Ayah yg ingin kalian menjadikan Dunia sebagai jalan menuju Ridha Allah SWT..