PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER MANAJEMEN UNIVERSITAS JAMBI

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER MANAJEMEN UNIVERSITAS JAMBI
SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERKUNJUNG DI BLOG AHMAD FAUZAN FIQRI, S.E.,M.M

Kamis, 02 Februari 2017

Harta Halal Belum Tentu Berkah

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits
 
Sumber: Google.com
Sebagian orang beranggapan dengan hartanya “yang penting halal”. Padahal halal saja belum cukup.
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Kata berkah [البركة] secara bahasa artinya sesuatu yang tumbuh dan bertambah atau langgeng dan abadi. (Lisan al-Arab, 10/395).
Ketika seseorang mengucapkan,
اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد
Ya Allah berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad,
maknanya adalah Ya Allah, kokohkanlah, langgengkanlah kebaikan dan kemuliaan untuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya. (Ahkam at-Tabarruk, Dr. Abdul Aziz Rais, hlm. 2)

Istilah untuk harta, bisa dipahami dua hal:
Pertama, harta yang boleh dimanfaatkan
Berdasarkan pengertian ini maka semua harta yang halal bagi muslim, adalah harta yang berkah. Meskipun harta itu habis pakai. Karena harta halal adalah keberkahan bagi mukmin, sehingga ketika mereka menikmati harta itu, tidak menjadi sumber masalah ketika di akhirat.
Allah berfirman,
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. al-A’raf: 32)
Rizki yang halal di dunia, Allah sediakan untuk orang yang beriman. Sehingga ketika mereka menikmatinya, mereka tidak berdosa.

Kedua, harta berkah dalam arti yang bertambah dan berkembang
Inilah makna berkah yang lebih sering kita pahami. Tidak sebatas halal, namun bertambah, sehingga mencukupi kebutuhan semuanya.

Allah berjanji bagi orang yang beriman dan bertaqwa, akan dibukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’raf: 96).

Allah berikan kepada kampung yang bertaqwa jatah rizki yang lebih. Tidak sebatas halal, tapi melimpah. Dan itulah keberkahan yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang bertaqwa.
Dan ini bukan sebatas halal, karena semua yang Allah turunkan di muka bumi adalah halal bagi manusia, kecuali yang dilarang. Sementara orang bertaqwa diberi lebih, sebagai balasan baik untuk mereka.
Seperti doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ
Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya dan berkahilah semua yang Engkau berikan kepadanya. (HR. Bukhari 6334)
Kata Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,
فوالله إن مالي لكثير، وإن ولدي وولد ولدي يتعاقبون على نحو المئة
Demi Allah, hartaku sangat banyak. Sementara anak dan cucu-cucuku, mencapai 100 orang. (HR. Ibnu Hibban 7177)
Ketika Zubair wafat, beliau meninggalkan warisan berupa tanah hutan. Ketika dijual, harganya naik sangat tinggi. Abdullah Zubair radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,
وَكَانَ الزُّبَيْرُ اشْتَرَى الْغَابَةَ بِسَبْعِينَ وَمِائَةِ أَلْفٍ ، فَبَاعَهَا عَبْدُ اللَّهِ بِأَلْفِ أَلْفٍ وَسِتِّمِائَةِ أَلْفٍ
Zubair pernah membeli tanah hutan seharga 170.000, kemudian tanah itu dijual oleh putranya, Abdullah bin Zubair seharga 1.600.000 (HR. Bukhari 3129).
Hadis ini diletakkan al-Bukhari dalam kitab shahihnya di Bab, “keberkahan harta orang yang berperang.”

Semua yang Halal harus Bertambah?
Berangkat dari pemahaman di atas, bahwa berkah artinya bertambah, dan harta halal adalah harta yang berkah, sebagian orang memahami, harta halal harus bertambah. Dan jika tidak bertambah, ini indikasi bahwa harta itu tidak halal.

Hingga ada sebagian orang yang melakukan usaha, diberi modal kawannya, namun ternyata usahanya gagal dan bahkan mengalami kerugian. Kesimpulan yang dia berikan, modal usahanya tidak berkah, karena berasal dari harta yang haram.

Memang dia tidak menuduh kawannya bekerja di dunia haram. Tapi setidaknya kesimpulan ini tidak lepas dari nuansa suudzan kepada pemodal.
“Harta halal adalah harta yang berkah, karena itu harus bertambah. Jika tidak bertambah, itu tanda bahwa harta itu tidak berkah.”
Kesimpulan ini tidaklah benar. Karena membuat konsekuensi kebalikan dari sebuah kalimat, tidak semuanya benar.

Ada kaidah mengatakan,
لازم القول ليس بلازم
Konsekuensi dari pernyataan, tidak semuanya benar.
Harta halal, memang berkah. Berkah dalam arti, bisa dimanfaatkan tanpa ada hukuman.
Tapi bukan berarti harta halal akan terus berkembang, dan menghasilkan banyak harta. Tidak ada jaminan demikian.

Dulu ada beberapa ulama yang melakukan usaha dan mereka gagal. Bahkan diantara mereka ada yang masuk penjara, gara-gara menanggung utang yang sangat besar.
Diantaranya Muhammad bin Sirin. Seorang ulama besar tabiin, muridnya sahabat Anas bin Malik dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berprofesi sebagai saudagar. Akan tetapi, pada akhir hayatnya, beliau ditimpa pailit dan terlilit utang sebesar 30.000 dirham, sehingga beliau pun dipenjara. Beliau baru dapat terbebas dari penjara setelah putranya, yang bernama Abdullah, melunasi utangnya.

Tentu saja bukan modal beliau yang bermasalah. Harta beliau halal, dan beliau seorang ulama yang wara’ terhadap harta.
Allahu a’lam.

Kenangan Bersama SAHABAT MAN MODEL IPA 3 2012


Rabu, 01 Februari 2017

Guruku, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber: Google.com

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Saya awali cerita dulu ya,
Kejadian sekitar tahun 2004. Ketika itu saya naik bis, jurusan Ngawi – Bojonegoro. Di depan saya ada beberapa lelaki berbadan atletis. Seingat saya sekitar 3 orang. Anehnya, ketika kondektur menarik karcis, ketiga orang ini gak ada yang bayar. Kondektur hanya bisa main kerlingan mata dengan kawannya. Saya merasa penasaran, saya perhatikan siapa 3 orang ini. Ternyata mereka anggota TNI.
Dia mendapat fasilitas duduk, padahal ada penumpang lain yang bayar, hanya berdiri. Saya anggap, ini oknum.
Di bus, Jogja – Surabaya, saya sering melihat pengumuman, anggota TNI/Polri tetap wajib bayar dan mendapat diskon 30% jika memakai seragam dinas…
Saya tidak tahu, apa alasan pemilik PO menempelkan stiker pengumuman semacam ini…
Waktu di bandara, anggota bisa masuk hanya untuk menjemput kawannya, sampai ke tempat akhir penumpang turun, sekalipun dia tidak sedang bertugas mengamankan bandara.
Di beberapa tempat layanan umum, mereka didahulukan, sementara masyarakat lainnya harus tetap mengantri…
Subhanallah… saya berfikir, apa jasa mereka bagi masyarakat, sehingga mereka begitu dihormati dan dihargai.
Kalaupun mereka memberikan layanan ke masyarakat, itu bagian dari tuntutan profesi mereka sebagai anggota. Dan mereka digaji negara dengan profesi itu…
Sisi lain dari kehidupan…
Sekitar setahun yang lalu, saya mendengar kabar guru TPA saya dikeluarkan dari tempat dia mengajar… Orangnya sudah cukup berumur, usia beliau kurang lebih 50 th.
Dulu waktu usia TK hingga SD kelas 2, saya ngaji di musolah dekat rumah. Kami pake turutan. Metode belajar al-Quran klasik yang tidak mengajarkan teori panjang pendek bacaan. Singkat cerita, hingga juz Amma, bacaan al-Quran saya blepotan… gak tahu panjang, gak tahu pendek…
Hingga dibukalah program TPA di kampung saya. Saya ikut dan ketika itu, saya kelas 3 MI (SD). Di situlah saya belajar dg panduan Iqra’. Saya mengenal panjang-pendeknya bacaan, latihan mengucapkan makhraj huruf, dan hukum-hukum tajwid  yang lain. Di sinilah, saya mulai belajar membaca al-Quran dengan benar…
Saya sangat yakin, waktu itu guru-guru saya mengajar dengan bayaran seikhlasnya. Karena SPP bulanan saya pada itu hanya sekitar Rp 300;. Diantara mereka ada yang petani, penjahit, tukang becak. Saya layak merasa sedih ketika ada diantara mereka yang harus dikeluarkan dari lembaga pendidikan itu. Terlepas dari semua latar belakangnya…
Subhanallah… mereka yang berjasa, namun tidak pernah mendapat penghargaan dari siapapun…
Guru TPA, guru TK, guru SD, mengajarkan  putra-putri kita bagaimana menjadi manusia yang beradab, tapi di masyarakat, mereka dianggap manusia sampingan…
Intinya, di negara kita ada 2 manusia ekstrim…
Mereka yang dihormati, namun tanpa jasa…
Mereka yang berjasa, namun tanpa penghormatan…
Berbahagialah anda wahai para guru…,
Para pahlawanku tanpa tanda jasa…
Anda tidak pernah muncul di TV…  Rodja maupun yufid, apalagi wesal…
Jasa anda tidak direkam media…
Barangkali anda salah satu ahli surga yang doanya mustajab…
Dari Haritsah bin Wahb al-Khuza’i radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُتَكَبِّرٍ
Aku sampaikan kepada kalian tentang penduduk surga, merekalah orang lemah, dianggap lemah, andai mereka bersumpah atas nama Allah untuk menyabut sesuatu, tentu Allah akan mengabulkannya.
Dan aku sampaikan kepada kalian penduduk neraka. Merekalah orang yang keras, rakus, dan sombong. (HR. Bukhari 4918, Turmudzi 2809 dan yang lainnya)
Dalam hadis lain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ
Betapa banyak orang yang penampilannya acak-acakan, ditolak setiap kali minta izin, tapi jika orang ini bersumpah atas nama Allah untuk menyebut sesuatu, Allah akan mengabulkannya. (HR. Muslim 6848)
Mereka tidak diperhatikan penduduk bumi… tapi mereka dibela penghuni langit…
Kita berutang jasa kepada mereka…
Allahu a’lam.