PERISTIWA DIBALIK JABAL TSUR
Jabal Tsur terletak ± 6 km di sebelah Selatan Masjidil Haram. Di salah
satu puncak Jabal Tsur itulah terdapat Gua Tsur, tempat yang dijadikan
perlindungan Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya Abu Bakar RA dari kejaran kaum
kafir Quraiys. Kala itu, tahun 622 Masehi, Rasulullah Muhammad SAW berniat
hijrah ke Kota Madinah untuk mencari tempat penyebaran Islam yang lebih
kondusif. Namun, kaum kafir Quraisy yang tak menginginkan ajaran Muhammad
menyebar ke luar Makkah, melakukan pengejaran untuk menghalangi niat
Rasulullah. Dalam kondisi terdesak, Rasulullah dan Abu Bakar memilih masuk ke
Gua Tsur atas petunjuk yang diberikan Allah SWT melalui malaikat Jibril. Di gua
yang berada di Jabal Tsur nan tandus itulah Rasulullah dan Abu Bakar berlindung
selama tiga hari tiga malam.
Sesungguhnya,
episode gua Tsur ini adalah kisah sejarah yang paling menegangkan dan paling
menentukan, sebagaimana ditulis oleh Muhammad Husein Haikal dalam bukunya “Sejarah
Hidup Muhammad” sebagai berikut:
RENCANA
Quraisy akan membunuh Muhammad pada malam hari, karena dikuatirkan ia akan
hijrah ke Medinah dan memperkuat diri di sana serta segala bencana yang mungkin
menimpa Mekah dan menimpa perdagangan mereka dengan Syam sebagai akibatnya,
beritanya sudah sampai kepada Muhammad. Memang tak ada orang yang menyangsikan,
bahwa Muhammad akan menggunakan kesempatan itu untuk hijrah. Akan tetapi,
karena begitu kuat ia dapat menyimpan rahasia itu, sehingga tiada seorangpun
yang mengetahui, juga Abu Bakr, orang yang pernah menyiapkan dua ekor unta
kendaraan tatkala ia meminta ijin kepada Nabi akan hijrah, yang lalu
ditangguhkan, hanya sedikit mengetahui soalnya. Muhammad sendiri memang masih
tinggal di Mekah ketika ia sudah mengetahui keadaan Quraisy itu dan ketika kaum
Muslimin sudah tak ada lagi yang tinggal kecuali sebagian kecil. Dalam ia
menantikan perintah Tuhan yang akan mewahyukan kepadanya supaya hijrah, ketika
itulah ia pergi ke rumah Abu Bakr dan memberitahukan, bahwa Allah telah
mengijinkan ia hijrah. Dimintanya Abu Bakr supaya menemaninya dalam
hijrahnya itu, yang lalu diterima baik oleh Abu Bakr.
Di sinilah dimulainya kisah yang paling cemerlang dan indah yang pernah dikenal manusia dalam sejarah pengejaran yang penuh bahaya, demi kebenaran, keyakinan dan iman. Sebelum itu Abu Bakr memang sudah menyiapkan dua ekor untanya yang diserahkan pemeliharaannya kepada Abdullah b. Uraiqiz sampai nanti tiba waktunya diperlukan. Tatkala kedua orang itu sudah siap-siap akan meninggalkan Mekah mereka sudah yakin sekali, bahwa Quraisy pasti akan membuntuti mereka. Oleh karena itu Muhammad memu-tuskan akan menempuh jalan lain dari yang biasa, Juga akan berangkat bukan pada waktu yang biasa.
Pemuda-pemuda yang sudah disiapkan Quraisy untuk membunuhnya malam itu sudah mengepung rumahnya, karena dikuatirkan ia akan lari. Pada malam akan hijrah itu pula Muhammad membisikkan kepada Ali b. Abi Talib supaya memakai mantelnya yang hijau dari Hadhramaut dan supaya berbaring di tempat tidurnya. Dimintanya supaya sepeninggalnya nanti ia tinggal dulu di Mekah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan kepadanya.
Dalam pada
itu pemuda-pemuda yang sudah disiapkan Quraisy, dari sebuah celah mengintip ke
tempat tidur Nabi. Mereka melihat ada sesosok tubuh di tempat tidur itu dan
merekapun puas bahwa dia belum lari. Tetapi, menjelang larut malam waktu itu,
dengan tidak setahu mereka Muhammad sudah keluar menuju ke rumah Abu Bakr.
Kedua orang itu kemudian keluar dari jendela pintu belakang, dan terus bertolak
ke arah selatan menuju gua Thaur. Bahwa tujuan kedua orang itu melalui jalan
sebelah kanan adalah di luar dugaan.
Tiada seorang yang mengetahui tempat persembunyian mereka dalam gua itu selain Abdullah b. Abu Bakr, dan kedua orang puterinya Aisyah dan Asma, serta pembantu mereka ‘Amir b. Fuhaira. Tugas Abdullah hari-hari berada di tengah-tengah Quraisy sambil mendengar-dengarkan permufakatan mereka terhadap Muhammad, yang pada malam harinya kemudian disampaikannya kepada Nabi dan kepada ayahnya. Sedang ‘Amir tugasnya menggembalakan kambing Abu Bakr’ sorenya diistirahatkan, kemudian mereka memerah susu dan menyiapkan daging. Apabila Abdullah b. Abi Bakr keluar kembali dari tempat mereka, datang ‘Amir mengikutinya dengan kambingnya guna menghapus jejaknya.
Kedua orang itu tinggal dalam gua selama tiga hari. Sementara itu pihak Quraisy berusaha sungguh-sungguh mencari mereka tanpa mengenal lelah. Betapa tidak. Mereka melihat bahaya sangat mengancam mereka kalau mereka tidak berhasil menyusul Muhammad dan mencegahnya ber-hubungan dengan pihak Yathrib. Selama kedua orang itu berada dalam gua, tiada hentinya Muhammad menyebut nama Allah. KepadaNya ia menyerahkan nasibnya itu dan memang kepadaNya pula segala persoalan akan kembali. Dalam pada itu Abu Bakr memasang telinga. Ia ingin mengetahui adakah orang-orang yang sedang mengikuti jejak mereka itu sudah berhasil juga.
Kemudian pemuda-pemuda Quraisy - yang dari setiap kelompok di ambil seorang itu - datang. Mereka membawa pedang dan tongkat sambil mundar-mandir mencari ke segenap penjuru. Tidak jauh dari gua Thaur itu mereka bertemu dengan seorang gembala, yang lalu ditanya.
“Mungkin saja mereka dalam gua itu, tapi saya tidak melihat ada orang yang menuju ke sana.”
Ketika
mendengar jawaban gembala itu Abu Bakr keringatan. Kuatir ia, mereka akan
menyerbu ke dalam gua. Dia menahan napas tidak bergerak, dan hanya menyerahkan
nasibnya kepada Tuhan. Lalu orang-orang Quraisy datang menaiki gua itu, tapi
kemudian ada yang turun lagi.
“Kenapa kau tidak menjenguk ke dalam gua?” tanya kawan-kawannya.
“Ada sarang laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad lahir,” jawabnya. “Saya melihat ada dua ekor burung dara hutan di lubang gua itu. Jadi saya mengetahui tak ada orang di sana.”
Muhammad makin sungguh-sungguh berdoa dan Abu Bakr juga makin ketakutan. Ia merapatkan diri kepada kawannya itu dan Muhammad berbisik di telinganya:
“Jangan bersedih hati. Tuhan bersama kita.”
Dalam buku-buku hadis ada juga sumber yang menyebutkan, bahwa setelah terasa oleh Abu Bakr bahwa mereka yang mencari itu sudah mendekat ia berkata dengan berbisik:
“Kalau mereka ada yang menengok ke bawah pasti akan melihat kita.”
“Abu Bakr, kalau kau menduga bahwa kita hanya berdua, ketiganya adalah Tuhan,” kata Muhammad.
Orang-orang Quraisy makin yakin bahwa dalam gua itu tak ada manusia tatkala dilihatnya ada cabang pohon yang terkulai di mulut gua. Tak ada jalan orang akan dapat masuk ke dalamnya tanpa menghalau dahan-dahan itu. Ketika itulah mereka lalu surut kembali. Kedua orang bersembunyi itu mendengar seruan mereka supaya kembali ke tempat semula. Kepercayaan dan iman Abu Bakr bertambah besar kepada Allah dan kepada Rasul.
Peristiwa
pertolongan Allah SWT serta persembunyian Rasulullah Muhammad SAW dan Abu Bakar
di Gua Tsur diabadikan melalui firmah Allah SWT dalam Surat At-Taubah ayat 40.
Ayat itu berbunyi:
{إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ
الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ
وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا
السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ}
[التوبة: 40]
”Bila kamu
tidak mau menolong Rasul, maka Allah SWT telah menjamin menolongnya ketika
orang-orang kafir mengusirnya berdua dengan sahabatnya. Ketika keduanya berada
dalam gua, dia berkata kepada sahabatnya: ”Janganlah engkau berduka cita,
karena Allah SWT bersama kita.” Lalu Allah SWT menurunkan ketenangan hati
(kepada Muhammad) dan membantu-nya dengan pasukan-pasukan yang tiada tampak
olehmu. Dijadikan-Nya kepercayaan orang-orang kafir paling rendah dan agama
Allah SWT menduduki tempat teratas. Sesungguhnya Allah SWT Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah / 40)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar